Selasa, 27 Agustus 2013

PROSES BELAJAR PERMULAAN SD KLS I

BLOG INDUK :  diklik
http://blograsyad.blogspot.com      (semua blog)



Teknologi Tepat Guna
(Pengembangan Metodologi Pembelajaran)


PROSES BELAJAR MEMBACA PERMULAAN KELAS I SD
DENGAN SISTEM ASSIMILASI MATERI DAN METODE YANG KOMPREHENSIP, SISTEMATIK, DAN SISTEMIK


Disusun  oleh:
 M. RASYAD, S.Pd.SD
(Guru SDN Cenlecen 2, Kec. Pakong, Kab. Pamekasan, Madura)





2013


PROSES BELAJAR MEMBACA PERMULAAN KELAS I SD
DENGAN SISTEM ASSIMILASI MATERI DAN METODE YANG KOMPREHENSIP, SISTEMATIK, DAN SISTEMIK
Disusun th. 2013 oleh: M.Rasyad, S.Pd.SD
(Guru SDN Cenlecen 2, Pakong, Pamekasan, Madura)

ABSTRAK
Dalam kegiatan belajar membaca permulaan di kelas I SD sering dijumpai ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan memahami bentuk tulisan dan pelafalan. Diantara penyebabnya adalah ketidak tepatan pemilihan materi dan metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian bagaimana mempermudah siswa dalam memahami bentuk tulisan dan pelafalan melalui penerapan proses belajar membaca permulaan dengan sistem assimilasi materi dan metode yang komprehensip, sistematik, dan sistemik. Oleh sebab itu perlu dirancang adanya upaya menggali materi awal pelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan bahasa anak kemudian menelaah dan menyusun kerangka metode yang tepat dan selanjutnya kedua hal tersebut diassimilasikan sehingga membentuk sistem assimilasi materi dan metode yang komprehensip, sistematik, dan sistemik dengan tujuan agar dapat dideskripsikan secara lengkap mulai dari penggalian materi, penelaahan dan penyusunan kerangka metode, peng-assimilasian materi dan metode secara komprehensip, sistematik, dan sistemik serta uraian cara penerapannya yang jelas dan mudah untuk dapat digunakan sebagai panduan dalam proses belajar mengajar membaca permulaan di kelas I SD dalam usaha mempermudah siswa memahami bentuk tulisan dan pelafalan. Hasil assimilasi tersebut yang merupakan perpaduan dan pertautan antara materi dengan metode dapat digunakan sebagai informasi baru bagi akademisi, peneliti, dan pemerhati pendidikan dalam upaya mengembangkan metode membaca di SD. Sedangkan bagi praktisi (guru SD) sebagai solusi untuk mempermudah siswa dalam memahami bentuk tulisan dan pelafalan. Proses belajar membaca permulaan dengan sistem tersebut sangat terkait erat dengan penyusunan materi awal pelajaran yang terbagi dalam 6 tahap yang kemudian materi pada tiap tahapnya dikembangkan melalui kerangka metode secara komprehensip, sistematik, dan sistemik dengan lama penerapan 1 x pertemuan. 

BAB I PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Kegiatan proses belajar mengajar khususnya dalam kegiatan belajar membaca permulaan di kelas satu sekolah dasar sering dijumpai ada beberapa siswa mengalami kesulitan dalam memahami bentuk tulisan dan pelafalan. Kesulitan belajar tersebut disebabkan oleh banyak faktor, diantara faktor penyebab yang menarik untuk ditelaah adalah mengenai ketidak tepatan penerapan metode membaca dan metode lainnya yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Selama ini berbagai macam metode membaca seperti metode eja (melafalkan bunyi huruf atau fonem), metode huruf (menyebut nama huruf), metode suku kata, metode kata dan metode kalimat dan juga metode lainnya seperti bercerita (meceritakan wacana), permainan (tebak-tebakan), penemuan (merangkai suku kata atau huruf), poster (pemajangan), bertanya, diskusi, pemberian tugas, kerja kelompok, ceramah, pemecahan masalah dan lain-lainnya penerapannya dilaksanakan secara terpisah-pisah tidak ada keterkaitan antara metode yang satu dengan metode yang lainnya serta tidak memperhatikan urgensi masing-masing metode. Metode yang mana yang perlu diterapkan lebih dahulu dan yang mana pula yang diterapkan kemudian. Penggunaan metode yang demikian tentu dapat menyebabkan pelajaran yang disajikan menimbulkan kesulitan bagi siswa dalam bernalar terhadap apa yang dilihat, didengar dan yang dibacanya sehingga hasilnya kurang menyerap pada struktur kognitif siswa.

B.   Permasalahan

Berdasarkan hal tersebut di atas maka bagaimana mempermudah siswa dalam memahami bentuk tulisan dan pelafalan yang sesuai dengan modalitas dan karakteristik anak usia SD melalui proses belajar membaca permulaan dengan sistem assimilasi materi dan metode yang komprehensip, sistematik, dan sistemik.
  
C.   Rancangan Pemecahan Masalah

Dengan mengingat pentingnya masalah tersebut maka yang perlu dilakukan adalah pertama mengadakan penggalian materi awal pelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan bahasa anak dan yang kedua mengadakan penelaahan dan penyusunan terhadap berbagai macam metode membaca dan metode lainnya. Kedua macam metode tersebut ditelaah secara cermat dan tepat tentang kegunaannya, cara penerapannya, urutan keterkaitannya, dan tujuan dari masing-masing metode. Setelah masing-masing materi dan metode tersebut tersusun maka selanjutnya diassimilasikan dengan cara mengembangkan materi awal pelajaran sesuai dengan kerangka metode sehingga membentuk sistem assimilasi materi dan metode yang komprehensip, sistematik, dan sistemik.

D.   Tujuan

Assimilasi antara materi awal pelajaran dengan kerangka metode yang sesuai dengan modalitas dan karakteristik anak usia SD sehingga membentuk sistem assimilasi yang komprehensip, sistematik, dan sistemik adalah dengan tujuan agar dapat dideskripsikan secara lengkap mulai dari penggalian materi, penelaahan dan penyusunan kerangka metode, peng-assimilasian materi dan metode secara komprehensip, sistematik, dan sistemik serta uraian cara penerapannya yang jelas dan mudah untuk dapat digunakan sebagai panduan dalam proses belajar mengajar membaca permulaan di kelas I SD dalam usaha mempermudah siswa memahami bentuk tulisan dan pelafalan.

E.   Manfaat

Hasil assimilasi seperti yang dijadikan nama judul di atas dapat digunakan sebagai informasi baru bagi akademisi, peneliti dan pemerhati pendidikan dalam upaya mengembangkan metode membaca permulaan di SD. Sedangkan bagi praktisi (guru SD) sebagai solusi untuk mempermudah siswa dalam memahami bentuk tulisan dan pelafalan. Proses belajar membaca permulaan dengan sistem tersebut sangat terkait erat dengan penyusunan materi awal pelajaran yang terbagi dalam 6 tahap yang kemudian materi pada tiap tahapnya dikembangkan melalui kerangka metode secara komprehensip, sistematik, dan sistemik. 


BAB II LANDASAN TEORI

A.   Konsep/Teori

Konsep/teori yang menjadi landasan penyusunan sistem assimilasi materi dan metode dalam proses belajar membaca permulaan adalah:

1.    Metode dan Strategi

Dalam Dinn Wahyudin (2007:3.4-3.5) disebutkan metode adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan. Sedangkan strategi lebih merupakan perencanaan atau taktik yang dirancang sedemikian rupa untuk tujuan pembelajaran yang lebih khusus.

Dalam Asep Herry Hernawan (2008:1.23) dikatakan strategi pembelajaran sangat penting dikaji dalam studi tentang kurikulum, baik secara makro maupun mikro. Strategi pembelajaran ini berkaitan dengan masalah cara atau sistem penyampaian isi kurikulum (delivery system) dalam rangka pencapaian tujuan yang telah dirumuskan. Pengertian strategi pembelajaran dalam hal ini meliputi pendekatan, prosedur, metode, model, dan teknik yang dipergunakan dalam menyajikan bahan/isi kurikulum. Sujana (1988) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran pada hakikatnya adalah tindakan nyata dari guru dalam melaksanakan pembelajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan lebih efisien. Dengan kata lain, strategi ini berhubungan dengan siasat atau taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan kurikulum secara sistemik dan sistematik. Sistemik mengandung arti adanya saling keterkaitan di antara komponen kurikulum sehingga terorganisasikan secara terpadu dalam mencapai tujuan, sedangkan sistematik mengandung pengertian bahwa langkah-langkah yang dilakukan guru secara berurutan sehingga mendukung tercapainya tujuan.
  
2.    Belajar

John Dewey dalam Rudi Susilana (2008:11.5) menyatakan “belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan oleh dirinya sendiri, maka inisiatif belajar harus muncul dari dirinya”. Dengan demikian, kesadaran untuk melakukan kegiatan belajar harus datang dari setiap individu, sebab belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain. 

Ausubel Agus Taufik (2007:6.14-6.15) menurutnya, belajar bermakna merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Dalam belajar bermakna informasi atau materi pembelajaran baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer yang relevan dengan struktur kognitif. Akibat dari pemaknaan itu, subsumer - subsumer tersebut berkembang. Perkembangan subsumer tersebut sangat bergantung kepada kejadian-kejadian pengalaman seseorang.

Menurut Ausubel (1963) dalam Agus Taufik (2007:6.15) kebermaknaan suatu pembelajaran sangat dipengaruhi oleh sedikitnya 3 faktor, yaitu struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sementara itu, Dahar (1996:116) dalam Agus Taufik (2007:6.15) mengemukakan dua prasyarat terjadinya belajar bermakna, yaitu (1) materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial, dan (2) anak yang akan belajar harus bertujuan belajar bermakna. Kebermaknaan potensial materi pelajaran bergantung kepada 2 faktor, yaitu (1) materi itu harus memiliki kebermaknaan logis dan (2) gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif peserta didik (Dahar, 1996:116) dalam Agus Taufik (2007:6.15).

Dalam Ihat Hatimah dan Sadri (2007:1.26) proses belajar yang terjadi pada diri siswa menurut teori konstruktivis bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah (dari luar siswa ke dalam diri siswa), melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa terhadap pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada kemutakhiran struktur kognitifnya. 

Mulyani Sumantri (2007:1.38-1.39) mengatakan pada awal pengalaman belajar langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengenali modalitas kita, yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah. Apakah mudalitas kita visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat; apakah auditorial yaitu belajar melalui apa yang didengar; ataukah kinestetik yaitu belajar melalui gerak dan sentuhan. Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas itu pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu diantara ketiganya (Bobbi De Porter, 1992).

Sebuah pepatah Cina kuno yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, bunyinya:
Saya mendengar, maka saya lupa,
Saya melihat, maka saya  ingat,
Saya melakukan, maka saya memahami.
Pepatah tersebut sejalan dengan modalitas yang telah dikemukakan yaitu bahwa murid mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda: visual, auditorial atau kinestetis. Agar murid-murid memperoleh hasil belajar dengan baik, gaya belajarnya harus sesuai dengan gaya guru dalam mengajar.

Dalam Udin S.Winataputra (2007:1.8), menurut Bower dan Hilgard (1981), yaitu bahwa belajar mengacu pada perubahan perilaku atau potensi individu sebagai hasil dari pengalaman dan perubahan tersebut tidak disebabkan oleh insting, kematangan atau kelelahan dan kebiasaan.
Dalam Ihat Hatimah dan Sadri (2007:1.26) proses belajar yang terjadi pada diri siswa menurut teori konstruktivis bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah (dari luar siswa ke dalam diri siswa), melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa terhadap pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada kemutakhiran struktur kognitifnya. 

Mulyani Sumantri (2007:1.38-1.39) mengatakan pada awal pengalaman belajar langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengenali modalitas kita, yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah. Apakah mudalitas kita visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat; apakah auditorial yaitu belajar melalui apa yang didengar; ataukah kinestetik yaitu belajar melalui gerak dan sentuhan. Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas itu pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu diantara ketiganya (Bobbi De Porter, 1992). Murid mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda: visual, auditorial atau kinestetis. Agar murid-murid memperoleh hasil belajar dengan baik, gaya belajarnya harus sesuai dengan gaya guru dalam mengajar.

3.    Metode Tanya Jawab

Puji Lestari (2007:3.31) menyebutkan pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan divergen (terbuka). Pertanyaan semacam ini dapat merangsang diskusi karena memiliki banyak kemungkinan jawaban. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka. Agar tampak manfaatnya, pertanyaan terbuka harus mencakup bahan yang cukup dikenal siswa. Oleh karena itu, guru pun disarankan untuk tetap berada dalam jalur tujuan instruksional dari suatu pokok bahasan.

Menurut Puji Lestari (2007:3.31) pertanyaan-pertanyaan, seperti apa akibatnya……, seandainya………umumnya merupakan pertanyaan yang dapat merangsang imajinasi siswa untuk menampilkan gagasan baru, khususnya penemuan baru. Guru yang mendorong proses pemikiran yang tidak hanya mengenai data yang sudah ada akan menghasilkan anak yang bukan hanya pelaksana, tetapi juga pemikir, penemu maupun pencipta.

Apa sebenarnya metode bertanya? Menurut Winataputra (2005:7.3-7.4) adalah penyampaian pelajaran dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab dengan tujuan untk memperoleh informasi, tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dengan siswa, dan antar siswa dengan siswa. Selanjutnya dikatakan dalam proses belajar mengajar, bertanya memegang peranan yang penting, sebab pertanyaan yang tersusun dengan teknik pengajuan yang tepat akan mampu: (1) meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar, (2) membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibicarakan, (3) mengembangkan pola berpikir dan belajar aktif siswa, sebab berpikir sendiri adalah bertanya, (4) menuntun proses berpikir siswa, sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik, (5) memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.

4.    Penemuan

Bruner (Dewi Andriyani: 2007:3.18) belajar bermakna hanya dapat  terjadi  melalui   belajar penemuan. Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur  informasi  yang  kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukannya sendiri, bukan hanya sekadar menerima penjelasan dari guru saja. (Gagne/Berliner, 319-320).

Bruner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar di mana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan, mendorong siswa mencari jawaban sendiri, dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat menemukan sendiri hubungan antarkonsep. Menurut Bruner, belajar penemuan pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan masalah yang ditemui dengan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.

Dalam menerapkan model belajar penemuan ini, seorang guru dianjurkan untuk tidak memberikan materi pelajaran secara utuh. Siswa cukup diberikan konsep utama, untuk selanjutnya siswa dibimbing agar dapat menemukan sendiri sampai akhirnya dapat mengorganisasikan konsep tersebut secara utuh. Untuk itu guru perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mendapatkan konsep-konsep yang belum disampaikan oleh guru dengan pendekatan belajar problem solving.

Ihat Hatimah dan Sadri (2007:9.23) menyebutkan menemukan  merupakan inti dari pembelajaran kontektual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa merupakan hasil dari penemuan siswa itu sendiri.

Tahapan yang dapat dilalui dalam proses inquiry secara keseluruhan adalah:
1.)  Kegiatan pemberian dorongan. Kegiatan  ini  ditujukan  untuk  menarik  perhatian siswa dan mengungkapkan bahan belajar yang akan  dipelajari  dengan bahan belajar yang sudah dikuasai.
2.)  Kegiatan penyampaian rencana progam pembelajaran yang harus diikuti siswa.
3.)  Pelaksanaan inquiry, dengan langkah-langkah:
-      Pengajuan permasalahan
-      Pengajuan pertanyaan penelitian (hipotesis)
-      Pengumpulan data
-      Penarikan kesimpulan
-      Penarikan generalisasi.
4.)  Umpan balik. Kegiatan ini ditujukan untuk melihat respons siswa terhadap keseluruhan bahan belajar.
5.)  Penilaian tentang keseluruhan aspek yang sudah dicapai oleh siswa.

5.    Karakteristik Anak Usia SD

Nana Syaodih (2007:6.3) menyebutkan karakteristik yang menonjol pada anak usia SD adalah senang bermain, selalu bergerak, bekerja atau bermain dalam kelompok, dan senantiasa ingin melaksanakan atau merasakan sendiri.

Disamping memperhatikan karakteristik anak usia SD, implikasi pendidikan  dapat  pula bertolak dari kebutuhan peserta didik. Pemaknaan kebutuhan SD dapat diidentifikasi dari tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan dalam melaksanakan tugas tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Havighurst (1961:2) menyatakan bahwa: A development task which arises at or about a certain period in the life of the individual, successful achievement of which leads to his happiness and to success with later tasks, while failure leads to unhappiness in the individual, disapproval by the society, and difficulty with later tasks.

Nana Syaodih (2007:6.5) menyebutkan tugas-tugas perkembangan yang bersumber dari kematangan fisik diantaranya adalah belajar berjalan, belajar melempar-menangkap dan menendang bola, belajar menerima jenis kelamin yang berbeda dengan dirinya. Beberapa tugas perkembangan terutama bersumber dari kebudayaan seperti belajar membaca, menulis dan berhitung, belajar bertanggung jawab sebagai warga negara. Sementara tugas-tugas perkembangan yang bersumber dari nilai-nilai kepribadian individu diantaranya memilih dan mempersiapkan untuk bekerja, memperoleh nilai filsafat dalam kehidupan.

Anak usia SD ditandai oleh tiga dorongan ke luar yang besar yaitu: (1) kepercaan anak untuk keluar rumah dan masuk dalam kelompok sebaya, (2) kepercayaan anak memasuki dunia permainan dan kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik, dan (3) kepercayaan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, dan simbolis dan komunikasi orang dewasa. 

Dengan demikian pemahaman terhadap tugas-tugas perkembangan anak SD dapat dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD, dan untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak itu sendiri.

Nana Syaodih (2007:6.13) meyebutkan perkembangan anak SD merupakan tahapan perkembangan yang sangat penting, baik bagi perkembangan pendidikan maupun perkembangan pribadi. Studi longitudinal yang dilaksanakan Bloom (1964) memberikan gambaran bahwa prestasi akademik umum pada kelas 12 (kelas 3 sekolah menengah) diperkaya oleh prestasi akademik pada akhir tahun kelas 3 SD. Temuan ini memberikan gambaran bahwa tahun-tahun pertama anak belajar di sekolah dasar berpengaruh sangat signifikan terhadap sikap anak terhadap sekolah dan pola-pola pencapaian prestasi tahap-tahap selanjutnya. Di samping itu, temuan penelitian memberikan gambaran bahwa perilaku anak pada usia 6 sampai dengan 10 tahun memiliki kadar prediksi yang tinggi bagi perilakunya nanti saat dewasa (Dinkmeyer dan Caldwel, 1970).

B.   Alternatif Rancangan Aplikasi  

Alternatif konsep/teori yang dipilih dalam merancang sistem assimilasi materi dan metode dalam proses belajar membaca permulaan adalah:

1.    Menelaah Metode dan strategi yang akan digunakan dalam merancang metode pembelajaran membaca dengan tepat merupakan hal penting karena nanti sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Disini metode merupakan suatu cara yang digunakan oleh pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan. Sedangkan strategi lebih merupakan perencanaan atau taktik yang dirancang sedemikian rupa untuk tujuan pembelajaran yang lebih khusus, demikian menurut Dinn Wahyudin (2007:3.4-3.5). Strategi berhubungan dengan siasat atau taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan kurikulum secara sistemik dan sistematik. Sistemik mengandung arti adanya saling keterkaitan di antara komponen kurikulum sehingga terorganisasikan secara terpadu dalam mencapai tujuan, sedangkan sistematik mengandung pengertian bahwa langkah-langkah yang dilakukan guru secara berurutan sehingga mendukung tercapainya tujuan, hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Asep Herry Hernawan (2008:1.23)

2.    Pengertian belajar menjadi panduan yang perlu dipahami agar penyusunan metode pembelajaran membaca tidak salah arah. Ausubel Agus Taufik (2007:6.14-6.15) menurutnya, belajar bermakna merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Dalam belajar bermakna informasi atau materi pembelajaran baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer yang relevan dengan struktur kognitif. Akibat dari pemaknaan itu, subsumer - subsumer tersebut berkembang. Perkembangan subsumer tersebut sangat bergantung kepada kejadian-kejadian pengalaman seseorang. Mulyani Sumantri (2007:1.38-1.39) mengatakan pada awal pengalaman belajar langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengenali modalitas kita, yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah. Apakah mudalitas kita visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat; apakah auditorial yaitu belajar melalui apa yang didengar; ataukah kinestetik yaitu belajar melalui gerak dan sentuhan.  Sebuah pepatah Cina kuno yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, bunyinya:
Saya mendengar, maka saya lupa,
Saya melihat, maka saya  ingat,
Saya melakukan, maka saya memahami.

3.    Untuk melengkapi penyusunan metode pembelajaran membaca maka metode lainnya seperti metode tanya jawab dan metode penemuan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dengan metode membaca yang merupakan metode pokok. Selanjutnya metode tanya jawab ini akan digunakan dalam pembelajaran dengan permainan tebak-tebakan. Sedangkan metode penemuan sebagai dasar yang sangat urgen dalam membentuk siswa sebagai pribadi yang mampu bernalar sebagai calon penemu masa depan. Menurut Puji Lestari (2007:3.31) menyebutkan pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan divergen (terbuka). Pertanyaan semacam ini dapat merangsang diskusi karena memiliki banyak kemungkinan jawaban. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka. Agar tampak manfaatnya, pertanyaan terbuka harus mencakup bahan yang cukup dikenal siswa. Oleh karena itu, guru pun disarankan untuk tetap berada dalam jalur tujuan instruksional dari suatu pokok bahasan. Pertanyaan-pertanyaan, seperti apa akibatnya……...., seandainya………,  umumnya merupakan pertanyaan yang dapat merangsang imajinasi siswa untuk menampilkan gagasan baru, khususnya penemuan baru. Guru yang mendorong proses pemikiran yang tidak hanya mengenai data yang sudah ada akan menghasilkan anak yang bukan hanya pelaksana, tetapi juga pemikir, penemu maupun pencipta. Selanjutnya menurut Bruner (Dewi Andriyani: 2007:3.18) belajar bermakna hanya dapat terjadi  melalui belajar penemuan. Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur  informasi  yang  kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukannya sendiri, bukan hanya sekadar menerima penjelasan dari guru saja. (Gagne/Berliner, 319-320). Bruner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar di mana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan, mendorong siswa mencari jawaban sendiri, dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat menemukan sendiri hubungan antarkonsep. Menurut Bruner, belajar penemuan pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan masalah yang ditemui dengan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya. Dalam menerapkan model belajar penemuan ini, seorang guru dianjurkan untuk tidak memberikan materi pelajaran secara utuh. Siswa cukup diberikan konsep utama, untuk selanjutnya siswa dibimbing agar dapat menemukan sendiri sampai akhirnya dapat mengorganisasikan konsep tersebut secara utuh. Untuk itu guru perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mendapatkan konsep-konsep yang belum disampaikan oleh guru dengan pendekatan belajar problem solving.
      
4.    Hal yang penting lagi dalam menyusun metode pembelajaran membaca terlebih dahulu perlu memahami perilaku anak usia SD agar metode yang disusun nanti cocok dengan modalitas dan karakteristik anak. Nana Syaodih (2007:6.3) menyebutkan karakteristik yang menonjol pada anak usia SD adalah senang bermain, selalu bergerak, bekerja atau bermain dalam kelompok, dan senantiasa ingin melaksanakan atau merasakan sendiri. Menurut Nana Syaodih (2007:6.5) anak usia SD ditandai oleh tiga dorongan ke luar yang besar yaitu: (1) kepercaan anak untuk keluar rumah dan masuk dalam kelompok sebaya, (2) kepercayaan anak memasuki dunia permainan dan kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik, dan (3) kepercayaan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, dan simbolis dan komunikasi orang dewasa. Studi longitudinal yang dilaksanakan Bloom (1964) memberikan gambaran bahwa prestasi akademik umum pada kelas 12 (kelas 3 sekolah menengah) diperkaya oleh prestasi akademik pada akhir tahun kelas 3 SD. Temuan ini memberikan gambaran bahwa tahun-tahun pertama anak belajar di sekolah dasar berpengaruh sangat signifikan terhadap sikap anak terhadap sekolah dan pola-pola pencapaian prestasi tahap-tahap selanjutnya. Di samping itu, temuan penelitian memberikan gambaran bahwa perilaku anak pada usia 6 sampai dengan 10 tahun memiliki kadar prediksi yang tinggi bagi perilakunya nanti saat dewasa (Dinkmeyer dan Caldwel, 1970).




BAB III KARYA INOVASI PEMBELAJARAN

A.   Ide Dasar

Ide dasar penyusunan sistem assimilasi materi dan metode dalam proses belajar  membaca permulaan adalah:
1.    Bagaimana menentukan materi pelajaran membaca yang sesuai dengan usia anak kelas I SD. Pada dasarnya kegiatan belajar membaca permulaan di kelas satu sekolah dasar haruslah bersesuaian dengan perkembangan bahasa anak. Dalam pelajaran bahasa Indonesia di kelas satu sangat tepat apabila kata-kata yang akan diajarkan kepada siswa mengandung fonem-fonem yang secara bertahap berkembang pada anak sejak mulai belajar berbicara hingga anak masuk di kelas satu SD.
2.    Bagaimana mempermudah siswa kelas I SD dalam belajar membaca permulaan? Karena dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas satu sekolah dasar ketika siswa mulai belajar membaca permulaan sering dijumpai ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bentuk tulisan dan pelafalan. Faktor penyebab yang utama dalam permasalahan tersebut adalah metode yang digunakan. Solusinya adalah menentekan kerangka metode yang tepat dan sesuai dengan modalitas dan karakteristik anak usis SD.

B.   Proses Inovasi

Penyusunan sistem assimilasi materi dan metode sebagai berikut:
1.    Penggalian Materi Awal Pelajaran
Urutan fonem-fonem yang secara bertahap berkembang pada anak sejak mulai belajar berbicara hingga anak masuk di kelas satu SD, bila ditulis dalam bentuk huruf adalah:
Tahap I        :  a,i,n, dan m.
Tahap II       :  u  dan b.
Tahap III      :  e dan p.
Tahap IV      :  o dan l.
Tahap V       :  h da t.
Tahap VI      :  d dan s.
Apabila huruf-huruf/fonem-fonem tersebut dirangkaikan dengan menggunakan papan catur (kertas persegi berpetak) maka akan terbentuk rangkaian huruf/fonem yang berstruktur vv, kv dan vk sebagaimana yang tertulis dalam tabel 1 di bawah ini.


Pada tabel 1 di atas rangkaian huruf/fonem bagian tahap I sampai tahap IV merupakan kelompok huruf/fonem yang rangkaian hurufnya/fonemnya saling terkait. Sedangkan pada tahap V dan VI hanya sebagian saja. Hal tersebut menunjukkan bahwa rangkaian huruf/fonem vv, kv dan vk merupakan rangkaian-rangkaian huruf/fonem yang berlapis berulang, sehingga bila dijadikan bahan pelajaran belajar membaca maka banyak memberi keuntungan, karena:
1)      Bahan pelajaran tersebut disajikan secara bertahap sehingga sesuai dengan perkembangan kemampuan siswa.
2)      Huruf-huruf/fonem-fonem tersebut urutannya sesuai dengan perkembangan bahasa siswa.
3)      Bila rangkaian huruf-huruf/fonem-fonem tersebut saling dirangkaikan sehingga menjadi kata-kata sehari-hari (bahasa anak) maka akan menjadi bahan pelajaran yang komunikatif.
4)      Dapat memperkuat daya ingat siswa sebab bahan  pelajarannya  saling terkait  dari  tahap I hingga tahap VI.
5)      Dapat memikat perhatian anak sebab mudah  dan bermakna   (tiap  tahapnya  ada persamaan dan perbedaan: huruf/fonem, rangkaian huruf/fonem dan kata yang terbentuk).

Selanjutnya hasil perangkaian huruf/fonem pada tabel 1 di atas tiap tahapnya dapat disusun materi awal pelajaran yang terdiri dari:
1).   Kata-kata terpilih (kata yang merupakan penggabungan dari beberapa rangkaian huruf/fonem tanpa huruf mati), dan
2).   Kata-kata yang berakhir dengan huruf mati.
Hasil penyusunan materi awal pelajaran dari tiap-tiap tahap dapat dilihat pada tabel: 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 di bawah ini.
Tahap I:   Kelompok huruf/fonem a, i, n, dan m (membentuk kata yang  berstruktur huruf: a, i, n, dan m)
                                          
Tahap II: Kelompok huruf/fonem u dan b ditambah huruf-huruf/fonem-fonem pada tahap I (membentuk kata yang  berstruktur huruf: u, b + a, i, n, m)

 Tahap III: Kelompok huruf/fonem e dan p ditambah huruf-huruf/fonem-fonem pada tahap I dan II (membentuk kata yang  berstruktur huruf: e, p + a, i, n, m + u, b).



 Tahap IV: Kelompok huruf/fonem o dan l ditambah huruf-huruf/fonem-fonem pada tahap I,  II, dan III (membentuk kata yang  berstruktur huruf: o, l + a, i, n, m + u, b + e, p).


Tahap V: Kelompok huruf/fonem h dan t ditambah huruf-huruf/fonem-fonem pada tahap I, II, III dan IV (membentuk kata yang  berstruktur huruf: h, t + a, i, n, m + u, b + e, p + o, l).


Tahap VI: Kelompok huruf/fonem d dan s ditambah huruf-huruf/fonem-fonem pada tahap I, II, III, IV dan V (membentuk kata yang  berstruktur huruf:    d, s + a, i, n, m + u, b + e, p + o, l + h, t).

  
2.    Menelaah dan Menyusun Kerangka Metode

Pada awal tahun pelajaran di kelas satu sekolah dasar kegiatan belajar membaca permulaan memerlukan perhatian serius sehingga guru harus benar-benar tepat dalam menentukan metode pembelajaran membaca yang akan diterapkan.

Metode belajar membaca memiliki peran penting dalam kegiatan siswa belajar membaca. Karena tidak mungkin dalam kegiatan tersebut dilaksanakan tanpa metode. Sehingga metode merupakan keharusan dan bagian dari strategi proses kegiatan belajar mengajar membaca. Metode adalah teknik atau seni mengajar bagaimana agar materi pelajaran yang disampaikan dapat dipahami siswa.

Untuk memudahkan uraian ini maka istilah metode dibagi kedalam dua macam kelompok, yaitu metode membaca dan metode lainnya. Dalam metode membaca dikenal dengan adanya metode eja (melafalkan bunyi huruf atau fonem), metode huruf (menyebut nama huruf), metode suku kata, metode kata dan metode kalimat. Sedangkan pada metode lainnya dikenal adanya metode seperti bercerita, permainan, penemuan, poster, bertanya, diskusi, pemberian tugas, kerja kelompok, ceramah, pemecahan masalah dan lain-lainnya.

Dalam proses kegiatan belajar mengajar membaca penerapan berbagai macam metode membaca dan metode lainnya tentu tidak serta merta langsung diterapkan tetapi terlebih dahulu harus diketahui kegunaannya lalu dipilih dan ditentukan urutan kesesuaiannya  dengan memperhatikan kedekatan hubungan keterkaitannya antar metode sehingga benar-benar tepat dan sesuai dalam penerapannya.

Penerapan dari masing-masing metode dalam metode membaca yang beragam tersebut tentu memiliki tujuan yang berbeda-beda tetapi secara umum bertujuan agar siswa dapat memahami bentuk tulisan dan pelafalan. Demikian juga penerapan dari masing-masing metode dalam metode lainnya yang juga beragam tentu memiliki tujuan yang berbeda-beda pula tetapi secara umum bertujuan agar siswa mudah memahami materi pelajaran yang diterimanya baik yang didengar, dilihat, dirasakan, maupun yang dibacanya.

Dengan demikian berbagai macam metode baik metode membaca maupun metode lainnya yang berbeda-beda tujuan tersebut perlu diadakan pemilihan, pengurutan dan penggabungan dengan tepat sesuai kedekatan hubungan keterkaitannya dalam suatu bentuk susunan pola-pola kegiatan belajar membaca yang komprehensip, sistematik, dan sistemik yang sesuai dengan modalitas dan karakteristik anak usia SD.

Disini metode kalimat dalam metode membaca sangat tepat apabila diterapkan paling awal dalam kegiatan proses belajar mengajar membaca. Kemudian pada metode kata lalu metode suku kata dan terakhir pada metode eja. Jadi dari segi bentuk dan materi siswa terlebih dahulu diberi pelajaran dalam bentuk global dengan materi yang bermakna yaitu kalimat dan kata kemudian kebentuk bagian-bagian dengan materi yang tidak bermakna yaitu suku kata dan huruf/fonem.

Sedangkan penerapan metode lainnya dapat diselipkan diantara kelompok metode membaca seperti metode berceritera, permainan, penemuan, dan poster/pajangan. Disini metode bercerita bersesuaian dengan karakteristik anak usia SD yang suka atau senang mendengarkan cerita yang menarik. Sangat tepat apabila wacana yang disusun guru diceritakan di depan kelas. Sedangkan metode permainan dengan tebak-tebakan diterapkan pada pelajaran menebak kata, suku kata dan fonem. Belajar sambil bermain merupakan suatu cara yang dapat memikat perhatian siswa sesuai dengan dunianya. Kemudian metode penemuan dapat digunakan dalam pemberian tugas siswa melafalkan suatu kata/suku kata/fonem atau siswa menunjukkan tulisan suatu kata/suku kata/fonem. Penemuan sangat besar maknanya bagi siswa karena siswa akan semakin percaya diri dan berani memberi jawaban atas pertanyaan guru. Selanjutnya metode poster/pajangan merupakan strategi guru agar pelajaran yang telah diterima siswa tidak hilang tetapi tetap teringat dalam pikiran siswa. Caranya adalah membuat rangkuman materi yang telah diterima siswa kemudian rangkuman tersebut dipajangkan di depan kelas sehingga tiap hari terlihat oleh siswa.  

Selanjutnya hasil telaah di atas dijadikan dasar untuk menggabungkan kedua macam metode tersebut menjadi kerangka metode yang utuh.

Berikut ini adalah susunan kerangka metode hasil penggabungan metode membaca dengan metode lainnya:
1.)  Menyusun Wacana
2.)  Menceritakan Isi Wacana Atau Membaca Wacana
3.)  Main Tebak Kata
4.)  Analisis Kata
5.)  Main Tebak Suku Kata
6.)  Penemuan Pelafalan dan Tulisan Kata-Kata Baru (bagian pertama)
7.)  Analisis Suku Kata
8.)  Main Tebak Fonem
9.)  Penemuan Pelafalan dan Tulisan Kata-Kata Baru (bagian kedua)
10) Mengeja dan Membaca Kata yang Berakhir dengan Huruf Mati
11) Menguji Ulang Struktur Kognitif Siswa           
12) Pemajangan

3.    Peng-assimilasian Materi dengan Metode

Assimilasi melalui 2 fase, yaitu:
a.    Fase pertama assimilasi secara sederhana antara materi dengan metode pada setiap tahapnya. Dalam hal ini materi hanya dikembangkan menurut garis besarnya saja melalui kerangka metode
1.)   Menyusun Wacana.
       Mengembangkan kata-kata terpilih dalam materi awal pelajaran sesuai pertahapnya menjadi wacana.
2.)   Menceritakan Isi Wacana Atau Membaca Wacana
Wacana yang telah jadi digunakan sebagai bahan cerita atau bahan bacaan.
3.)  Main Tebak Kata
Penulisan letak kata-kata terpilih dipertukarkan sedemikian rupa untuk permainan tebak kata.
4.)  Analisis Kata
Meceraikan kata-kata terpilih menjadi suku kata-suku kata.
5.)  Main Tebak Suku Kata
Penulisan suku kata dalam satu kata tiap kata-kata terpilih dipertukarkan sedemikian rupa untuk permainan tebak-tebakan suku kata.
6.)   Penemuan Pelafalan dan Tulisan Kata-Kata Baru (Bagian Pertama)
Menemukan dengan melafalkan dan menunjukkan bentuk tulisan kata-kata baru yang tersusun dari suku kata dalam kata-kata terpilih mulai dari suku kata lalu ke kata.
7.)  Analisis Suku Kata
       Menceraikan suku kata menjadi huruf-huruf/fonem-fonem dari kata-kata baru yang telah ditemukan sebelumnya.
8.)  Main Tebak Fonem
Penulisan huruf-huruf/fonem-fonem dalam kata-kata baru yang telah ditemukan sebelumnya (no.6) dipertukarkan untuk permainan tebak-tebakan fonem.
9.)   Penemuan Pelafalan dan Tulisan Kata-Kata Baru (Bagian Kedua)
Menemukan dengan melafalkan dan menunjukkan bentuk tulisan kata-kata baru yang tersusun dari  huruf-huruf/fonem-fonem dalam kata-kata baru yang telah ditemukan sebelumnya (no.6) mulai dari perhuruf/perfonem lalu ke suku kata kemudian ke kata.
10) Mengeja dan Membaca Kata yang Berakhir dengan Huruf Mati
Mengeja dan membaca kata-kata yang berakhir dengan huruf mati (konsonan) yang ada dalam materi awal pelajaran dengan dieja perfonem kemudian dibaca persuku kata lalu dibaca secara utuh dalam bentuk kata dengan berulang-ulang
11) Menguji Ulang  Struktur  Kognitif Siswa
Membuat/menyusun rangkuman pelajaran di papan tulis yang terdiri dari kata-kata terpilih, kata-kata baru dan kata-kata yang berakhir dengan huruf mati kemudian mengadakan tes lisan atau tes perbuatan menggunakan tulisan kata-kata dalam rangkuman pelajaran.
12) Pemajangan
Membuat pemajangan pada papan khusus atau kertas karton yang memuat rangkuman pelajaran dengan meletakkannya di depan kelas

b.    Fase kedua assimilasi komplek antara materi dengan metode pada setiap tahapnya. Dalam hal ini materi awal pelajaran dikembangkan melalui kerangka metode secara komprehensip, sistematik dan sistemik sehingga membentuk sistem yang utuh. Hasilnya dapat dilihat di bawah ini.
  
Tahap I


  
Tahap II


Tahap III



Tahap IV



Tahap V


Tahap VI


Rangkuman
Hasil Pengembangan Materi Awal Pelajaran

Tahap I
ani   mina   ima   ini   nani   nama   mana   mami   mama   nina  mai   nia   ina   main   aman   iman   niman   mimin   imam   naim   anam   mamam   mimim

Tahap II
banu   ibu   ubi   bimu  iba  bibi  babu  babi   bau   bui   abu   ia   abi    aba  bab  aib  ubun-ubun   namun   ummi   umum   minum

Tahap III
eme  papi  bene pena  pumeni  pipi pipa  papa  napi  nani  eni penipu  menipu  pupu  nina  nia  uap  map  munip  enni  inap  embun

Tahap IV
pono  oli  bola  palu  belo  mole  lupa  pala  bela  bemo  mono  beli  lalu  pola   iba   bali   lima   pula   bale   lama  malu  amal  amil  nil  mol  bon   om   bom   pop

Tahap V
itu   toha   tati   heni   tahu   tebu   honi   ini   tani   huni   buta   bui   hati batu   atau  tina  bata  tabu   tini    tata   tiba   abu   ubah   buih   penuh   aneh heboh   buat  bait  maut  paut  mepet   bobot

Tahap VI
susi  sepeda  sado  soto  ada  dua  di desa  sudi  sisa  dasi  dadu  dosa  susu  soda  sisi  sasa  isi  usia  dada  sidu  duda  adu  asis  mas  emas  basis  abad  manis  bus  pos  bos  tes  es

C.   Aplikasi Praktis untuk Pembelajaran

Sistem assimilasi materi dan metode dalam proses belajar membaca permulaan adalah merupakan hasil penyesuaian materi awal pelajaran yang dikembangkan melalui kerangka metode secara komprehensip, sistematik, dan sistemik yang pada setiap tahapnya sistem tersebut diterapkan dalam waktu 1 x pertemuan dengan cara sebagai berikut:

1.    Menyusun Wacana

Menyusun wacana merupakan langkah pertama. Pada langkah ini guru berupaya menyusun wacana pada secarik kertas (untuk diceritakan) atau pada papan tulis atau berupa pajangan tulisan yang telah jadi (untuk dibacakan) dengan menggunakan kata-kata terpilih dalam materi awal pelajaran yang telah dikembangkan sedemikian rupa (kata-kata terpilih pada bab III bagian B) sebagai isi wacana sesuai pertahapnya.

Mengapa dengan wacana? Bahan pelajaran belajar membaca haruslah yang bermakna lengkap dan dimengerti siswa. Bahan pelajaran yang demikian tentu akan mudah dipahami siswa karena mengandung cerita sehingga dapat dikatakan sebagai bahan pelajaran yang komunikatif dan bermakna. Dan secara tidak langsung siswa sejak dini telah mulai diperkenalkan pada pelajaran satuan bahasa yang terlengkap baik bentuk maupun maknanya, yaitu wacana.

2.    Menceritakan Isi Wacana Atau Membaca Wacana

Langkah kedua menceritakan isi wacana atau membaca wacana. Pada bagian ini guru bercerita tentang isi wacana yang telah disusunnya pada secarik kertas atau bersama siswa membaca wacana yang telah ditulis pada papan tulis atau pada pajangan tulisan yang telah jadi dengan dibaca secara berulang-ulang. Setelah itu guru menulis kata-kata terpilih pada papan tulis untuk dijadikan materi pelajaran pada kegiatan  berikutnya (langkah ke 3).

Mengapa demikian? Mendengarkan cerita bagi siswa adalah hal yang sangat menarik. Sedangkan membaca wacana bagi siswa sangat dibutuhkan agar lidah yang semula  kaku lambat laun akan mudah mengucapkan kata-kata. Selain itu wacana yang diceritakan atau yang dibacakan berulang-ulang akan memberi pemahaman pada siswa bahwa apa yang didengarnya atau yang dibacanya mengandung cerita atau isi yang berbeda sekali dengan corat coret yang biasa mereka lakukan.

3.    Main Tebak Kata

Pada langkah ketiga, yaitu main tebak kata. Langkah ini dilaksanakan dengan permainan tebak-tebakan kata-kata terpilih yang telah ditulis pada papan tulis disaat langkah ke 2. Pada permainan tersebut penulisan letak kata-kata terpilih dipertukarkan sedemikian rupa kemudian kata demi kata disuruh tebak kepada siswa bagaimana cara melafalkannya.    

Mengapa memilih permainan? Belajar sambil bermain merupakan suatu cara yang dapat memikat perhatian siswa sesuai dengan dunianya, yaitu bermain. Pada permainan tebak kata ini siswa dengan daya nalarnya sendiri dapat menangkap perbedaan bentuk globalnya (bentuk tulisan secara utuh tiap kata) pada kata-kata terpilih dan sekaligus dapat menyebutkannya (melafalkannya). Hal tersebut hampir serupa dengan contoh konkrit berikut ini: Siswa dapat menyebutkan beberapa nama hewan yang melintas di depannya hanya cukup melihat bentuk tubuhnya tanpa tahu bagian-bagiannya. Bahkan cukup mendengar suaranya siswa dapat menyebutkan nama hewannya.

4.    Analisis Kata

Langkah keempat adalah analisis kata. Langkah ini dilaksanakan dengan cara meceraikan kata-kata terpilih di langkah ke 3 menjadi suku kata-suku kata tanpa diterangkan apa suku kata itu. Guru hanya cukup membaca nyaring terputus-putus sesuai suku katanya dengan diikuti seluruh siswa secara berulang-ulang hingga akhirnya siswa fasih benar.

Mengapa kata perlu dianalisis? Hal tersebut semisal dengan sesuatu yang terlihat dari jauh akan tampak beda bila dilihat dari dekat. Sebab yang jauh bentuk globalnya yang dominan sedangkan yang dekat bentuk bagian-bagiannya yang dominan terlihat lebih dahulu. Demikian juga tentang kata seperti pada langkah ketiga anak hanya melihat kata dalam bentuk globalnya. Padahal pada bentuk yang global itu ada bagian-bagian yang lebih kecil tetapi tak bermakna, yaitu suku kata dan huruf/fonem. Oleh sebab itu agar anak lebih kenal dan mengerti pada pelajaran tentang terbentuknya suatu kata maka melalui analisis kata anak secara tak langsung telah belajar struktur kata yang terdiri dari suku kata yang tidak bermakna. Dengan cara ini anak melalui daya nalarnya sendiri dapat memahami bahwa kata yang tertulis dan yang diucapkannya tersusun dari beberapa suku kata yang tidak memiliki makna.

5.    Main Tebak Suku Kata

Main tebak suku kata merupakan langkah kelima yang dilaksanakan setelah siswa fasih melafalkan suku kata. Suku kata dalam satu kata terpilih di langkah ke 4 ditulis bertukar tempat lalu disuruh tebak kepada siswa bagaimana cara melafalkannya. Atau guru melafalkan salah satu suku kata lalu siswa disuruh menunjukkan bentuknya (tulisan suku kata yang telah ditulis guru di papan tulis).

Mengapa pengenalan suku kata melalui permainan? Daya ingat siswa dapat diperkuat melalui belajar sambil bermain. Permainan menebak bunyi (pelafalan ) suku kata dan bentuk (tulisan) suku kata tanpa menjelaskan fungsi dan maknanya adalah suatu hal yang menarik bagi siswa sebab sebelumnya siswa telah mampu menangkap bentuk globalnya (kata) dan bagian-bagiannya (suku kata) serta telah fasih melafalkannya. Permainan menebak bunyi pelafalan dan bentuk tulisan suku kata dengan mengubah letak urutannya dalam satu kata akan merangsang daya nalar siswa hingga pada pengertian bahwa kata terdiri dari suku kata-suku kata yang tersusun sedemikian rupa dan bila tidak tepat strukturnya akan diperoleh bentuk yang kacau dan tidak memiliki makna, yaitu bukan kata.

6.    Penemuan Pelafalan dan Tulisan Kata-Kata Baru (Bagian Pertama)

Pada langkah keenam ini guru mengupayakan agar siswa mampu menemukan pelafalan dan bentuk tulisan kata-kata baru (baru bagi siswa) dengan menggunakan suku kata-suku kata dari kata-kata terpilih pada langkah ke 5. Caranya guru memberi contoh bagaimana menemukan kata-kata baru dengan menggabung-gabungkan antar suku kata pada kata-kata terpilih sehingga terbentuk kata-kata yang baru kemudian melafalkannya mulai dari suku kata lalu ke kata. Atau guru melafalkan beberapa suku kata dari suatu kata yang baru lalu menunjukkan tulisannya yang telah ada di papan tulis. Selanjutnya guru banyak menulis kata-kata baru di papan tulis dengan menggunakan suku kata-suku kata dari kata-kata terpilih di langkah 5 tanpa diterangkan dan tanpa dibaca tetapi hanya ditunjukkan dari mana suku kata-suku kata tersebut diambil. Setelah itu guru menyuruh siswa menebak pelafalan dari kata-kata baru tersebut mulai dari suku kata lalu ke kata sehingga semua pelafalan kata-kata baru tersebut dapat ditemukan siswa. Atau guru melafalkan kata-kata baru lalu siswa disuruh menunjukkan tulisan kata tersebut yang telah ada di papan tulis.

Mengapa menggunakan cara penemuan? Penemuan merupakan suatu prestasi yang berharga. Penemuan pelafalan atau tulisan kata-kata baru bagi siswa sangat besar pengaruhnya. Motivasi siswa terhadap pelajaran akan meningkat sehingga mendorong daya kreatifitas siswa untuk mengembangkan kebahasaannya kearah yang lebih baik. Dalam hal ini siswa telah mempelajari cara membangun struktur kata-kata melalui perangkaian suku kata.

7.    Analisis Suku Kata

Pada analisis suku kata, langkah ketujuh ini guru menguraikan suku kata menjadi huruf-huruf/fonem-fonem dengan menggunakan suku kata-suku kata pada kata-kata baru yang telah ditemukan siswa pada langkah ke 6. Dalam pelaksanaannya siswa diajari cara melafalkan suku kata secara terputus-putus dan kemudian mengeja huruf (bunyi huruf bukan nama huruf). Contoh kata sepatu diceraikan atas suku katanya se-pa-tu dibaca se…pa…tu… kemudian suku kata tersebut dipecah-pecah lagi menjadi huruf-huruf/fonem-fonem, yaitu s-e-p-a-t-u dengan dieja es-e-ep-a-et-u lalu dilanjutkan dengan dibaca esse-eppa- ettu terus dibaca se-pa-tu akhirnya dibaca sepatu.

Mengapa suku kata harus dianalisis? Suku kata adalah bagian dari struktur kata yang tidak memiliki makna tetapi berfungsi membentuk kata. Perkataan adalah bunyi bahasa yang mengandung makna. Kata ketika dilafalkan (dibaca/disuarakan) yang kemudian terdengar pada telinga kita sebenarnya adalah merupakan rangkaian bunyi huruf (fonem) yang berbeda-beda. Memberi latihan melafalkan huruf-huruf secara terpisah-pisah kemudian secara terangkai dalam bentuk suku kata dan kata dengan diulang-ulang akan merangsang daya nalar siswa pada pengertian bahwa tiap-tiap bentuk huruf bila dilafalkan memiliki bunyi yang berbeda-beda (berbeda huruf berbeda pula bunyinya) sehingga secara tidak langsung siswa telah belajar mengenal satuan bahasa yang terkecil yang tidak mempunyai makna tetapi berfungsi untuk membentuk suku kata dari suatu kata, yaitu huruf/fonem.

8.    Main Tebak Fonem

Langkah kedelapan adalah main tebak fonem dengan menggunakan fonem-fonem dari kata-kata baru pada langkah ke 7. Pada bagian ini guru mengadakan permainan dengan siswa melalui permainan menebak fonem (bunyi huruf bukan nama huruf) dengan melakukan tukar-menukar huruf/fonem dalam satu suku kata kemudian dalam satu kata. Dalam hal ini bila guru menunjukkan huruf siswa yang melafalkannya (mengucapkan fonemnya), jika guru melafalkan suatu fonem (bunnyi huruf bukan nama huruf) siswa yang menunjukkan lambang fonemnya (hurufnya) yang ada di papan tulis.

Mengapa dilakukan dengan permainan? Permainan adalah sesuatu yang disenangi siswa. Dengan melalui permainan ingatan siswa terhadap bentuk huruf dan pelafalannya (fonemnya) semakin mantap dalam mengenal perbedaan bentuk huruf dan pelafalannya.

9.    Penemuan Pelafalan dan Tulisan Kata-Kata Baru (Bagian Kedua)

Pada langkah kesembilan, penemuan pelafalan dan tulisan kata-kata baru ini guru memberi contoh siswa dalam menyusun struktur kata-kata baru lagi dengan menggunakan huruf-huruf/fonem-fonem kata-kata baru sebelumnya pada langkah ke 8 kemudian melafalkannya (mengucapkan fonemnya) mulai dari perhuruf/perfonem lalu ke suku kata kemudian ke kata. Selanjutnya guru banyak menulis kata-kata baru lagi menggunakan huruf-huruf pada langkah 8 tanpa diterangkan dan tanpa dibaca tetapi hanya ditunjukkan dari mana huruf-huruf tersebut diambil. Kemudian guru menyuruh siswa menebak pelafalan kata-kata baru tersebut atau guru melafalkan suatu kata-kata baru lalu siswa disuruh menunjukkan tulisan kata-kata tersebut  yang telah ada di papan tulis mulai dari perhuruf/perfonem, persuku kata kemudian perkata sehingga semua pelafalan dan tulisan kata-kata baru yang tertulis di papan tulis telah dapat ditemukan siswa.

Mengapa pelajaran langkah kesembilan ini diarahkan pada penemuan pelafalan dan tulisan kata-kata baru? Penemuan pelafalan dan tulisan kata-kata baru oleh siswa yang strukturnya merupakan  penggabungan huruf-huruf/fonem-fonem yang diambil dari huruf/fonem kata-kata terpilih yang telah dipahami siswa sebelumnya adalah merupakan kebanggaan tersendiri pada siswa dalam berlatih mengembangkan kreatifitas kebahasaannya yang dimulai dari satuan bahasa yang terkecil (fonem) lalu ke suku kata kemudian ke bentuk kata atau dari bentuk yang tidak bermakna kebentuk yang bermakna sehingga pada akhirnya melalui kegiatan ini daya nalar siswa akan sampai pada pengertian bahwa fonem-fonem yang tertulis dalam bentuk huruf-huruf dan dilafalkan secara terangkai dan tepat menurut logika maka akan terbentuk suatu struktur fonem-fonem yang memiliki makna, yaitu kata.

10. Mengeja dan Membaca Kata yang Berakhir dengan Huruf Mati

Pada langkah kesepuluh ini siswa belajar mengeja dan membaca kata-kata yang berakhir dengan huruf mati (konsonan) yang ada dalam materi awal pelajaran. Dalam pelaksanaannya kata-kata tersebut pertama dieja perfonem kemudian dibaca persuku kata lalu dibaca secara utuh dalam bentuk kata dengan berulang-ulang hingga siswa fasih benar.

11.  Menguji Ulang  Struktur  Kognitif Siswa

Pada langkah kesebelas ini guru membuat/menyusun rangkuman pelajaran di papan tulis yang terdiri dari kata-kata terpilih (langkah ke 3), kata-kata baru (langkah ke 6 dan ke 9) dan kata-kata yang berakhir dengan huruf mati (langkah ke 10). Kemudian guru mengadakan tes lisan atau tes perbuatan kepada siswa dengan menyuruh siswa membacakan atau menunjukkan tulisan kata-kata dalam rangkuman pelajaran.tersebut.

Langkah kesebelas ini hanya sebagai pengulangan untuk memperkuat daya ingat siswa terhadap materi pelajaran yang telah diterima sejak langkah pertama hingga langkah kesepuluh.

12. Pemajangan

Pemajangan merupakan langkah yang terakhir, yaitu langkah kedua belas. Pada langkah ini guru membuat pemajangan pada papan khusus atau kertas karton yang memuat rangkuman pelajaran (langkah ke 11) dengan meletakkannya di depan kelas yang dapat dilihat dan dibaca siswa.

Kegiatan pemajangan ini bertujuan untuk:
1)    Agar hasil-hasil kegiatan belajar membaca tidak hilang begitu saja.
2)    Agar ada kebanggaan tersendiri pada  siswa  karena temuannya  dimuat  dalam  pajangan.
3)    Agar selalu dilihat siswa sehingga ingatan siswa terhadap bahan   pelajaran tetap terpelihara secara utuh.
4)    Sebagai sumber belajar yang setiap saat dapat digunakan lagi.
Dari 12 langkah dalam proses belajar membaca dengan sistem assimilasi tersebut di atas penerapannya memberi peluang untuk dapat dilaksanakan dalam waktu 1 x pertemuan pada setiap tahapnya.

D.   Penggandaan

Untuk mempercepat dan menjangkau keseluruh pelosok tanah air  penulis memilih penggandaan melalui internet.


BAB IV PENUTUP
A.   Simpulan

Sistem assimilasi materi dengan metode dalam proses belajar membaca permulaan yang telah dibahas di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.      Dalam sistem assimilasi tersebut secara tak langsung siswa diperkenalkan pada pelajaran tentang struktur bahasa mulai dari yang paling lengkap makna sampai ke yang tak bermakna, yaitu: dari wacana ke kalimat lalu ke kata terus ke suku kata dan terakhir ke huruf/fonem. Dengan demikian materinya dari segi struktur bahasa bersifat komprehensip dan sistematik.

2.      Sistem assimilasi tersebut melibatkan banyak metode yang terangkai secara terurut, saling terkait dan saling berhubungan serta memiliki tujuan-tujuan yang hirarkis sehingga ada kesinambungan penerapan metode dari metode yang pertama sampai ke metode yang terakhir. Hal tersebut memudahkan siswa bernalar secara bertahap dan terurut terhadap apa yang didengar, dilihat maupun yang dibacanya. Pendek kata metode yang digunakan terangkai secara sistematik dan sistemik.

3.      Macam metode yang digunakan dalam sistem tersebut cukup beragam, yaitu: Langkah ke 1 metode poster berupa  pajangan tulisan wacana, langkah ke 2 metode berceritera atau metode kalimat berupa siswa meniru ucapan guru dalam membaca kalimat, langkah ke 3 metode permainan atau metode kata berupa tebak-tebakan kata, langkah ke 4 metode suku kata, langkah ke 5 metode  permainan, langkah ke 6 metode penemuan, langkah ke 7 metode eja (fonem), langkah ke 8 metode permainan, langkah ke 9 metode penemuan, langkah ke 10 metode   eja (fonem), langkah ke 11 metode kata dan langkah ke12 metode poster/pajangan rangkuman. Sehingga metodenya cukup komprehensip, sistematik, dan sistemik .

4.      Materi awal pelajaran yang terdiri dari 6 tahap yang tiap tahapnya dikembangkan melalui kerangka metode dengan penerapan diselesaikan dalam 1 x pertemuan. Ini menunjukkan bahwa materi tersebut bersifat berjenjang, berurutan, saling terkait,  dan menyeluruh, sehingga materinya dapat dikatakan memiliki sifat komprehensip, sistematik, dan sistemik.

5.      Sistem assimilasi tersebut sarat materi dan metode yang tersusun secara berurutan, berhubungan dan berjenjang sehingga sistem tersebut bersifat komprehensip, sistematik, dan sistemik.

B.   Rekomendasi

Bagi para akademisi, peneliti dan pemerhati pendidikan ”Proses Belajar Membaca Permulaan dengan Sistem Assimilasi Materi dan Metode yang Komprehensip, Sistematik, dan Sistemik” ini dapat menjadi informasi baru dalam upaya pengembangan metode pembelajaran membaca permulaan. Dan bagi para praktisi (pendidik/guru SD) dapat menjadi solusi untuk mempermudah siswa dalam memahami bentuk tulisan dan pelafalan. Proses belajar membaca permulaan dengan sistem tersebut penerapannya sangat terkait erat dengan penyusunan materi awal pelajaran yang terbagi dalam 6 tahap yang tiap tahapnya harus dikembangkan melalui kerangka metode yang tersusun secara komprehensip, sistematik dan sistemik dengan pelaksanaan selesai dalam waktu 1 x pertemuan.
  

DAFTAR PUSTAKA


Herry Hermawan, Asep; dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Hatimah, Ihat; dkk. 2007. Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Jakarta: Universitas Terbuka
Lestari Mikarsa, Hera; Taufik, Agus; dan Lestari Prianto, Puji. 2007. Pendidikan Anak di SD. Jakarta: Universitas Terbuka
Sumantri, Mulyani; dan Syaodih, Nana. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka
Winataputra, Udin S; dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Wahyudin, Dinn; Supriadi; dan Abduhak, Ishak. 2007. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka